Maraknya musik-musik di tanah air dari berbagai grup musik atau boy/girl band membuat genre musik di Indonesia makin banyak. Tak ayal setiap pagi di televisi tayangan acara musik berhamburan. Mulai dari Dahsyat, Inbox dan masih banyak lagi. Telinga kita dimanjakan oleh alunan musik-musik tersebut, hingga kadang musik yang disajikan sesuai dengan apa yang kita rasakan.

Namun adakah yang pernah berpikir tentang hilangnya musik anak? Ya, sepeninggalan Trio Kwek-Kwek, Joshua, Tasya, Sherina, Derby, dan Bondan yang beranjak dewasa, serasa warna musik Indonesia menjurus bergaya cinta, dan rasa sakit karena cinta. Lalu bagaimana dengan musik anak?

Dahulu ada lagu si lumba-lumba, libur telah tiba, diobok-obok, ambilkan bulan dan masih banyak lagi. Namun kini semua hilang bak ditelan bumi. Realita musik anak Indonesia menjadi langka, dan seakan semua tertuju pada industri musik kalangan dewasa. Mengapa? Apakah untuk keuntungan? Lalu dimana moral memajukan anak bangsa?

Suguhan musik menjadi monoton, lagu cinta, rasa sakit, penderitaan, kegagalan cinta, dan lain sebagainya mengalun dari mulut suci anak dibawah 10 tahun. Sesuatu yang tidak masuk akal, anak-anak Indonesia dibiarkan melumat porsi dewasa, bahkan mereka tidak tahu makna dibalik lagu yang mereka nyanyikan. Dengan asiknya alunan lagu itu berdendang, dan parahnya orang tua si anak seakan tak peduli hal itu, membiarkan anaknya bergumam kata cinta dan lain sebagainya.

Mungkin kesadaran tentang lagu anak tererosi dari waktu ke waktu, mengikuti perkembangan zaman. Tapi mereka memiliki hak untuk menikmati apapun sesuai usianya, bukan terpaksa memakan apa yang disediakan. Daya pikiran mereka masih ingin bermain, bercanda dan tertawa, tapi sajian musik yang ada adalah untuk putus asa, kesakitan, dan sedih. Bayangkan anak-anak bangsa menjadi bagian kelam dibalik santapan yang kurang mendidik itu.

Tahun 2010 lalu, sempat diadakan ajang cipta lagu anak atau disingkat ACILA dan ketua panitianya Tika Bisono, dan saya Alhamdulillah ikut serta meski kurang beruntung. Di sana dipilih beberapa musik ciptaan yang dikhususkan untuk anak-anak. Meski sampai awal tahun ini belum ada kabar terdengarnya alunan musik para pemenang ACILA tersebut. Beberapa tahun lalu, launching pula album dari The Dance Company (TDC) dengan judul album for kids dan itu bertahan hanya beberapa waktu saja, setelahnya hilang.

Inilah upaya yang dilakukan untuk menarik kembali musik anak dari dasar sumur. Dalam hal ini seharusnya semua pihak bekerjasama untuk mewujudkan generasi bangsa yang kreatif. Menggandeng banyak musisi muda atau pencipta lagu dengan mengadakan ajang cipta lagu yang lebih menekankan pada porsi anak-anak. Bukan hanya itu, di sini dicari pula pengganti idola kecil, alias penyanyi cilik, untuk mengeratkan pemulihan musik anak Indonesia. Mulailah sekarang, kalau bukan kita siapa lagi yang menyelamatkan generasi muda bangsa.

sumber gambar : di sini

Iklan