Akhirnya aku tertinggal, bukan karena pelan lariku, atau tak naik kendaraan, tapi begitulah garisku. Sudah kucoba susuri ini perlahan, tetap saja jarak itu menampang di antaranya. Sekeras mencoba, sekuat niat menampar, dan sebesar air mata banjiri halaman hatiku, akhirnya aku katakan, ‘ikhlas’.

Senyum itu pun lekas mencair, waktu menghiburku, dan segalanya menjadi sendu. Harapku bak seutas tali di atas air, mengalir mengikuti arus, karena tak sanggup untuk memberontak. Inilah kekalahan atas apa yang tertawa di bawah sayap sang penguasa. Ribuan kata sabar selalu mengalun dalam nyanyian hatiku, mungkin bukan saatnya aku meraih sesuatu.

Bukan saat ini, mungkin nanti, setelah pendewasaan jalan yang liku menepis seluruh keinginan atas kemudahan. Seluruh panjatan keinginan itu tetap kuendap, tak pernah teraduk, hingga tertumpuk banyak tak teralirkan. Seolah inilah sebuah garis yang tergoreskan utuh untukku.

Tertahan sudah, pada kilau mentari yang mendapati tubuhku melalui dinding jendela. Sinarnya hangatkan hariku di sela bening harap. Mungkin ini cobaan yang membumbung di atasku, menimpa dan menyuruhku bartahan dan berjuang. Ada kiranya hati ini tegar, ada kalanya hati ini meneteskan pilu. Namun uluran tangan dari ribuan sayap-sayapku membentang kedamaian, berkata untuk tetap jalani ini semua dengan ikhlas.

Hingga segalanya menjadi senyum datang dan pergi, tawa silih berganti, dan tangis sapa dan mampir. Semua sudah kucicipi, kekuatanku tak tertahan pada diri, tapi pada jiwa-jiwa sayap itu, jiwa yang memapahku untuk tetap berdiri.

=======

Ujian dari-MU

Panjang dan liku

Beriku senyum dan pilu

Tingkatkan iman seiring waktu

Cobaan untukku

Tak henti melaju

Warnai langkah dan inginku

Menguji sabar dan ikhlasku

Oh Tuhanku

Kumohon pada-MU

Ampuni salah dan kejiku

Kuatkan aku lewati itu

Oh Tuhanku

Segalaku hanya untuk-MU

By: Nirman Munir