Baru-baru ini di tanah air tercinta ini semua orang dihebohkan oleh adanya serangan Tomcat di Surabaya, dan semua dibuat olehnya menjadi resah. Apakah sesungguhnya Tomcat itu, bagaimana perilakunya dan bagaimana mengatasinya?

 

Apakah Tomcat itu?

Tomcat merupakan sebutan untuk nama serangga penyebab peradangan kulit atau Dermatitis Paederus. Hewan ini sesungguhnya tergolong serangga berguna karena berperan sebagai predator aktif pada beberapa serangga pengganggu tanaman padi, seperti wereng batang coklat, wereng punggung putih, wereng zigzag, wereng hijau dan hama kedelai yang banyak terdapat di iklim tropis.

Bagaimana kumbang ini bisa mencapai hunian manusia?

Pada malam hari hewan ini tertarik pada lampu pijar dan neon, berpindah dari habitatnya dengan berjalan di permukaan tanah atau melalui tajuk tanaman dan sebagai akibatnya, secara tidak sengaja bersentuhan dengan kehidupan manusia. Menurut pakar serangga dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Aunu Rauf, meledaknya populasi Tomcat yang diawali di Surabaya ini mungkin terjadi karena habitatnya yang mulai hilang karena terusik akibat pembangunan.

Bagaimana bentuk kumbang Tomcat?

Kumbang Paederus dewasa umumnya berukuran 7 sampai 10 mm panjang dan 0,5 sampai 1 mm lebar. Di Indonesia jenis yang paling banyak dijumpai adalah Paederus fuscipes dan satu jenis lagi tetapi tidak sebanyak yang pertama yaitu Paederus tamulus. Tubuh kumbang Paederus berbentuk memanjang, terbagi menjadi tiga bagian kepala, toraks, dan abdomen. Bagian kepala, perut bagian bawah, dan elitera (struktur sayap pelindung) berwarna hitam, dan dada dan perut atas merah oranye. Kakinya terdiri atas tiga pasang dengan jumlah ruas tarsi kaki depan, tengah, dan belakang adalah 5-5-5, serta tidak berkuku. Sayapnya dua pasang, tetapi tidak menutupi seluruh abdomen, hanya menutupi ruas abdomen kesatu sampai dengan ketiga. Sayap depan mengeras disebut elitera, dan berfungsi sebagai perisai, sedangkan sayap yang kedua membranus atau bening digunakan untuk terbang.

Apa yang membuat Tomcat berbahaya?

Kumbang ini tidak menggigit atau menyengat, tapi secara tidak disengaja tersapu atau tergaruk tangan sehingga bagian tubuhnya hancur di atas kulit. Ketika itu ia akan mengeluarkan cairan hemolimfe, yang berisi pederin (C25H45O9N), zat kimia iritan kuat, yang akan menimbulkan reaksi gatal-gatal, rasa terbakar, eritema dan mengalir keluar 12-48 jam kemudian. Lesi-lesi kulit biasanya linear, dan kulit melepuh (vesiko-vitiliginous), bisa juga terjadi konjungtivitis pada mata atau bungkul-bungkul kemerahan.

Bagaimana pencegahan dan penanganannya?

Berikut Tips menghadapi serangga kecil tersebut, menurut Dirjen P2PL Prof dr Tjandra Yoga Aditama:

  • Jangan sampai terkena lendir atau racun dalam perut Tomcat, sebab itu akan membuat kulit melepuh. Jika Tomcat melekat di kulit, siram menggunakan air hingga pergi.
  • Jangan memencet Tomcat, sebab lendirnya adalah racun.
  • Jika telah terkena racun Tomcat, jangan digosok atau dihapus dengan tangan. Aliri dengan air, agar racun tersebut hilang terbawa air. Bawa ke puskesmas atau dokter untuk pengobatan selanjutnya.
  • Potong tanaman yang berlebihan dan menjulur mendekati rumah. Tanaman merupakan tempat hidup Tomcat.
  • Tutup jendela dan pintu serta hindarkan anak bermain di tempat terbuka yang banyak terdapat kumbang ini.

Sumber tulisan : 1, 2, 3

Sumber gambar : di sini

Iklan