Batik, kain yang penuh bercak. Bercaknya adalah seni yang indah di mata. Bagaikan sebuah lukisan yang tertera pada sehelai kain, sebagai torehan budaya bangsa tak ternilai harganya. Mungkin sejenak kita kenal berbagai jenis batik dari berbagai daerah di Indonesia, namun pernahkah kita mencoba melestarikan budaya bangsa ini? Budaya bernama batik ini, Batik Indonesia, batik kita, menjelajah ke seluruh dunia atas nama Indonesia. Amankah penjelajahannya?

Secara  awam kain ini membentangkan warna yang indah, cocok untuk berbagai acara, seperti kondangan, nikahan dan sebagainya. Namun dibalik semua itu, makna dari motif batik itu sendiri berbeda-beda. Seperti motif kawung yang melambangkan kesucian dan umur panjang, motif parang yang melambangkan kekuasaan dan kekuatan, dan motif sawat yang berbentuk sayap, hanya dikenakan oleh raja dan putra raja. Namun makna motif itu sudah melebur menjadi kesatuan yang serasi dalam budaya bangsa, yang dulunya hanya golongan tertentu, kini semua golongan atau semua lapisan masyarakat dapat mengenakannya.

Kembali ke pertanyaan di atas, pernahkah kita mencoba melestarikan budaya bangsa ini? Umumnya jarang pelestarian terjadi, mengapa? Karena dalam proses pelestarian butuh dukungan, dukungan paling besar yang dibutuhkan adalah dari generasi muda bangsa. Jika melihat dari generasi muda bangsa yang selalu mengikuti tren, seperti memakai jeans, baju-baju distro, dan sebagainya, bisa dikatakan bahwa pelestarian itu kurang.

Namun dengan adanya perkembangan tren di nusantara, diambillah kemudahan-kemudahan untuk bisa melestarikan batik Indonesia itu sendiri. Batik menyusup diantara tren-tren yang ada, menjelma menjadi bagian tak terpisahkan, di kantor, sekolah, kalangan remaja dan sebagainya. Penyesuaian ini pun bukan hanya pada bentuk batik yang produksi, tapi juga melalui harga yang cukup terjangkau mulai dari 40-50 ribu. Sudahkah pelestarian ini berhasil? pertanyaan ini jawablah sendiri.

Mari singgung pertanyaan berikutnya, amankah penjelajahan batik di dunia internasional? Pertanyaan ini mengalir seiring comotan dari Negara sebelah yang mambuat ulah, mencoba mencuri budaya bangsa ini. Reog salah satunya, yang dijadikan sebagai wajah baru budaya negara itu, meski dengan nama dan cara menampilkan yang berbeda. Ini berarti ada celah di Indonesia, celah yang berarti kurangnya kesadaran yang dimiliki oleh masyarakatnya.

Kejadian itu menimbulkan banyak cara digunakan untuk menepis kejadian itu terulang. Semua aset budaya dikrangkeng dalam satu wadah, meski dibilang terlambat, namun ini berhasil dijadikan tembok besar pencurian budaya yang lain. Apakah batik belum tersentuh kasus ini? Bukan belum tapi hampir.

Nama Batik sudah dipatenkan oleh Malaysia, nama yang seharusnya adalah milik Indonesia diserobot di sana. Namun tak habis sampai di situ, memang nama batik sudah dipatenkan Negara itu, tapi nilai estetikanya belum. Batik Indonesia, khususnya batik Pekalongan, diakui oleh UNESCO (Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan) sebagai salah satu warisan budaya dunia. Dunia boleh memakai batik, namun tidak boleh melakukan klaim atas batik tersebut.

Batik bukanlah nama paten milik Indonesia, tetapi batik adalah warisan budaya dunia milik Indonesia. Untuk itu banggalah, dan lestarikan budaya bangsa yang satu ini, budaya yang melambangkan inilah Indonesia, dan katakan pada dunia, “Saya cinta batik, saya suka batik dan saya suka dan  sering memakai batik” seperti yang dikatakan Presiden SBY pada saat pembukaan acara World Batik Summit (WBS) 2011 di Jakarta Convention Center.

*Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com

Iklan