Aku duduk merenung dalam kamar, tak bisa aku ingat lagi bagaimana kejadian hari itu, 7 bulanan kakakku. Betapa cepat semua berlalu, aku hanya terhipnotis sosok yang telah lama tak ada lagi. Namun dia, Dimas, teman kantor kakak iparku, mengukir kisah yang pernah kulalui terulang lagi dalam pikiranku.

Salahkah aku akan sifatku saat itu?

Tiba-tiba terpecah diamku karena bunyi dari handphoneku. Ternyata sebuah SMS, dan kubaca.. ‘Apa kamu ada acara hari ini? Jika tidak bisa temani kakak jalan-jalan hari ini?’ Isi SMS yang kubaca. Lalu kubalas dengan cepat dan ku iya kan saja, setelah itu kubergegas merapikan diri dan menuju ke rumah kakak iparku.

***

“Kamu sudah datang?” sapa kakak iparku

“Baru saja, kak” jawabku

“Nanti jalan-jalan sekaligus belanja ya…” lanjut kakak iparku

“Iya, Kak. Aku juga ga ada kerjaan hari ini, libur.” Sahutku antusias, karena kesempatan buatku untuk tidak menganggur. Maklum, aku bekerja lepas sebagai guru les. Karena saat ini adalah saat liburan anak sekolah, jadi pekerjaanku hanya di rumah.

“Di rumah ga bantu ibu?” Tanya kakak iparku lagi

“Ibu pergi,kak” jawabku

“Oh, yaudah. Yuk berangkat!” ajaknya

***

Kawasan ini adalah kawasan ramai orang. Bagaimana tidak, lalu lalang tiap detik terbanjiri oleh puluhan pasang mata. Yang ku khawatirkan adalah kakak iparku, hamil dalam kandungannya menginjak umur 8 bulan. Tapi dia tetap saja melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak boleh, dia melakukan seorang diri. Bahkan kakakku kewalahan membalas kata-katanya.

Aku emang patung disuruh diem di rumah, duduk manis, menunggu kamu pulang tiap hari. Lagi pula aku cuti kerja juga, di rumah ada Bibi yang masak, bersih-bersih, nyuci baju. Aku juga butuh jalan-jalan, main keluar. Apa kamu bisa temenin aku tiap hari, tiap jam, tiap menit, tiap detik kalau aku mau keluar?” begitu kakak iparku berkata kepada kakakku, Damar, saat itu.

Untuk itulah aku harus selalu siap jika memang kakak iparku ingin ditemani, ini adalah permintaan kakakku sendiri. Mau bagaimana lagi, kakak iparku selalu tidak ingin dibantah dan dikekang. Meski saat ini tempat tujuannya adalah sebuah tempat yang ramai, seperti apapun keadaannya, semua harus dituruti. Aku hanya siaga saja tepat dibelakangnya, dan siaga pula untuk menelepon kakakku jika terjadi sesuatu.

Alhamdulillah semua berjalan lancar tanpa ada sesuatu yang terjadi. Acara jalan-jalan dan berbelanja hari ini selesai juga. Tepat pukul 17.00 WIB, ku tiba di rumah, dengan membawa rasa letih di kaki, ku hamburkan diri di kamar sambil menghela nafas panjang. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi, ku lihat dalam layar handphoneku, Kak Damar. Bergegas ku angkat, takut ada sesuatu yang terjadi pada Kak Ayu sepeninggal ku dari kediamannya.

“De, mama lagi ke sini. Kamu kesini juga ya. RS. Mitra, cepet ya!” sahutnya tanpa basa-basi

“Kenapa emang Kak?” jawabku sambil kecewa karena telepon dari sana sudah terputus.

***

Kubergegas meluncur ke tempat di mana kakakku tadi telepon, RS Mitra. Aku tak tahu ada apa di sana, kenapa, dan bagaimana bisa ada di sana, siapakah yang sakit, semua masih menjadi misteri dalam balutan pikiranku yang semrawut ini. Pikiranku semakin kacau saat kucoba untuk menghubungi kakakku, dan itu percuma teleponku diabaikan.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” bathinku “Apakah Kak Ayu terjadi sesuatu setelah kupulang tadi? Ibu pun dipanggil ke sana…” lanjutku dalam hati

Hatiku kacau memikirkan itu, setibanya di sana aku makin panic karena kakakku hanya memberitahukan naman Rumah sakitnya, lalu di sini aku harus apa? Tak terpikirkan olehku, ku coba lagi sekali lagi untuk menghubungi kak Damar, dan…

“Kamar Melati” Jawabnya singkat dan tututut….lagi-lagi dimatikan begitu saja.

***

Cipratan penasaran itu terjawab sudah, saat di bibir kamar melati ku lihat dua sosok tersayang dalam hidupku, Ibu dan kakakku. Dengan wajah cemas meramu genggaman panik, kuhampiri mereka. Terjelaskan sudah beribu tanya dalam hati dengan memandang wajah Ibu dengan mata berbinar dan terpasang senyum mengembang. Kusalami mereka, dan kuucap salam.

Sepuluh menit kemudian dari saat itu, sosok yang paling dinanti oleh kakakku untuk mendapatkan jawaban dari 1 pertanyaan yang biasanya terlontar dari bibir sang calon ayah, “Bagaimana, Dok?” Senyum itu menyercit dalam bahagia, suara yang menggema seantero tempat itu masuk ke dalam gendang telingaku “Alhamdulillah…”

Pelukan pertama yang dihadiahi untuk ibuku setelah kabar itu terdengar, menjadi awal yang indah buat keluarga baru dari kak Damar. Kata selamat dan syukur tak henti melantun syahdu, membuat kebisingan yang elok.

***

Malaikat kecil itu diletakkan di atas dada sang ibu, meraba dengan bibir mungilnya, mencari sumber kehidupannya di awal dunia. Sekitar setengah jam berlalu, kami mengamati tingkah sang malaikat itu tanpa letih, tanpa bosan, lalu malaikat itu mengecup mulus pada puting susu sang Ibu, dan inisiasi menyusui dini itu sukses terlaksana dengan baik sesuai permintaan kak Damar.

“Kalau nanti kamu melahirkan aku mau anak kita diinisiasi, terus diberi ASI selama enam bulan full tanpa tambahan makanan apa-apa lagi, biar daya tahan tubuhnya kuat, ga mudah sakit. Aku beli bukunya ni, Bun” Begitu kata kak Damar sewaktu acara 7 bulanan

Begitu cepat berlalu dari saat itu, kini semua itu sedang dalam proses pelaksanaan. Bahagia berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Mata kuterus tertuju pada malaikat kecil itu, terus ku amati, dan bathinku bergurau, ‘jika aku punya keluarga dan anak nanti aku juga ingin seperti Kak Damar dan Kak Ayu

Tanpa kusadari terbersit suara terisak, begitu melekat, kian terasa. Sosok Ibu yang sedari tadi membungkam kata kini menangis, kupeluk dalam dekapku, dan tetesan itu membasahi pipiku juga.

***

Iklan