TERUMBU KARANG DAN KARANG

Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hew an karang. Karang adalah hew an tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hew an berrongga) atau Cnidaria. Yang disebut sebagai karang (coral) mencakup karang dari Ordo scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa. Lebih lanjut dalam makalah ini pembahasan lebih menekankan pada karang sejati (Scleractinia).

Satu individu karang atau disebut polip karang memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari yang sangat kecil 1 mm hingga yang sangat besar yaitu lebih dari 50 cm. Namun yang pada umumnya polip karang berukuran kecil. Polip dengan ukuran besar dijumpai pada karang yang soliter.

 

ANATOMI KARANG

Karang atau disebut polip memiliki bagian-bagian tubuh terdiri dari :

  1. mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan serta sebagai alat pertahanan diri.
  2. rongga tubuh (coelenteron) yang juga merupakan saluran pencernaan (gastrovascular)
  3. dua lapisan tubuh yaitu ektodermis dan endodermis yang lebih umum disebut gastrodermis karena berbatasan dengan saluran pencernaan. Di antara kedua lapisan terdapat jaringan pengikat tipis yang disebut mesoglea. Jaringan ini terdiri dari sel-sel, serta kolagen, dan mukopolisakarida. Pada sebagian besar karang, epidermis akan menghasilkan material guna membentuk rangka luar karang. Material tersebut berupa kalsium karbonat (kapur).

CARA MAKAN

Karang memiliki dua cara untuk mendapatkan makan, yaitu

1. Menangkap zooplankton yang melayang dalam air.

2. Menerima hasil fotosintesis zooxanthellae.

Ada pendapat para ahli yang mengatakan bahwa hasil fotosintesis zooxanthellae yang dimanfaatkan oleh karang, jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan proses respirasi karang tersebut (Muller-Parker & D’Elia 2001). Sebagian ahli lagi mengatakan sumber makanan karang 75-99% berasal dari zooxanthellae (Tucket & Tucket 2002). Ada dua mekanisme bagaimana mangsa yang ditangkap karang dapat mencapai mulut:

1. Mangsa ditangkap lalu tentakel membaw a mangsa ke mulut

2. Mangsa ditangkap lalu terbaw a ke mulut oleh gerakan silia di sepanjang tentakel

REPRODUKSI & PERTUMBUHAN KARANG

Seperti hewan lain, karang memiliki kemampuan reproduksi secara aseksual dan seksual.

  • Reproduksi aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan peleburan gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum). Pada reproduksi ini, polip/koloni karang membentuk polip/koloni baru melalui pemisahan potongan-potongan tubuh atau rangka. Ada pertumbuhan koloni dan ada pembentukan koloni baru
  • Reproduksi seksual adalah reproduksi yang melibatkan peleburan sperma dan ovum (fertilisasi). Sifat reproduksi ini lebih komplek karena selain terjadi fertilisasi, juga melalui sejumlah tahap lanjutan (pembentukan larva, penempelan baru kemudian pertumbuhan dan pematangan).

Reproduksi Aseksual

ASEKSUAL Dalam membahas reproduksi aseksual, perlu dipisahkan antara pertumbuhan koloni dengan pembentukan koloni baru
Pertunasan Terdiri dari:

  • Intratentakular yaitu satu polip membelah menjadi 2 polip; jadi polip baru tumbuh dari polip lama
  • Ekstratentakular yaitu polip baru tumbuh di antara polip-polip lain
    • Jika polip dan jaringan baru tetap melekat pada koloni induk, ini disebut pertambahan ukuran koloni.
    • Jika polip atau tunas lepas dari koloni induk dan membentuk koloni baru, ini baru disebut reproduksi aseksual
Fragmentasi Koloni baru terbentuk oleh patahan karang. Terjadi terutama pada karang bercabang, karena cabang mudah sekali patah oleh faktor fisik (seperti ombak atau badai) atau faktor biologi (predasi oleh ikan). Patahan (koloni) karang yang lepas dari koloni induk, dapat saja menempel kembali di dasaran dan membentuk tunas serta koloni baru. Hal itu hanya dapat terjadi jika patahan karang masih memilikijaringan hidup
Polip bailout Polip baru terbentuk karena tumbuhnya jaringan yang keluar dari karang mati.Pada karang yang mati, kadang kala jaringan-jaringan yang masih hidup dapat meninggalkan skeletonnya untuk kemudian terbawa air. Jika kemudian menemukan dasaran yang sesuai, jaringan tersebut akan melekat dan tumbuh menjadi koloni baru
Partenogenesis Larva tumbuh dari telur yang tidak mengalami fertilisasi

Pada karang yang mati, kadang kala jaringan-jaringan yang masih hidup dapat meninggalkan skeletonnya untuk kemudian terbawa air. Jika kemudian menemukan dasaran yang sesuai, jaringan tersebut akan melekat dan tumbuh menjadi koloni baru PartenogenesisLarva tumbuh dari telur yang tidak mengalami fertilisasi

Reproduksi Seksual

Karang memiliki mekanisme reproduksi seksual yang beragam yang didasari oleh penghasil gamet dan fertilisasi. Keragaman itu meliputi:

A. Berdasar individu penghasil gamet, karang dapat dikategorikan bersifat:

1. Gonokoris

Dalam satu jenis (spesies), telur dan sperma dihasilkan oleh individu yang berbeda. Jadi ada karang jantan dan karang betina. Contoh: dijumpai pada genus Porites dan Galaxea

2. Hermafrodit

bila telur dan sperma dihasilkan dalam satu polip. Karang yang hermafrodit juga kerap kali memiliki w aktu kematangan seksual yang berbeda, yaitu

  • Hermafrodit yang simultan → menghasilkan telur dan sperma pada waktu bersamaan dalam kesatuan sperma dan telur (egg-sperm packets). Meski dalam satu paket, telur baru akan dibuahi 10-40 menit kemudian yaitu setelah telur dan sperma berpisah. Contoh: jenis dari kelompok Acroporidae, favidae
  • Hermafrodit yang berurutan, ada dua kemungkinan yaitu individu karang tersebut berfungsi sebagai jantan baru, menghasilkan sperma untuk kemudian menjadi betina (protandri), atau jadi betina dulu, menghasilkan telur setelah itu menjadi jantan (protogini)

Contoh: Stylophora pistillata dan Goniastrea favulus

Meski dijumpai kedua tipe di atas, sebagian besar karang bersifat gonokoris

B. Berdasar mekanisme pertemuan telur dan sperma

1. Brooding/planulator

Telur dan sperma yang dihasilkan, tidak dilepaskan ke kolom air sehingga fertilisasi secara internal. Zigot berkembang menjadi larva planula di dalam polip, untuk kemudian planula dilepaskan ke air. Planula ini langsung memiliki kemampun untuk melekat di dasar perairan untuk melanjutkan proses pertumbuhan. Contoh: Pocillopora damicornis dan Stylophora

2. Spawning

Melepas telur dan sperma ke air sehingga fertilisasi secara eksternal. Pada tipe ini pembuahan telur terjadi setelah beberapa jam berada di air. Contoh: pada genus Favia

Dari sebagian besar jenis karang yang telah dipelajari proses reproduksinya, 85% di antaranya menunjukkan mekanisme spawning. Waktu pelepasan telur secara massal, berbeda waktu tergantung kondisi lingkungan, sebagai contoh:

  • Richmond dan Hunter menemukan bahw a di Guam, Micronesia: puncak spawning terjadi 7-10 hari setelah bulan purnama bulan Juli (Richmond 1991).
  • Kenyon menemukan spawning di Kepulauan Palau terjadi selama beberapa bulan, yaitu Maret, April dan Mei (Richmond 1991)

Siklus reproduksi karang secara umum adalah sebagai berikut:

Telur & spema dilepaskan ke kolom air (a) →fertilisasi menjadi zigot terjadi di permukaan air (b) →zygot berkembang menjadi larva planula yang kemudian mengikuti pergerakan air. Bila menemukan dasaran yang sesuai, maka planula akan menempel di dasar (c)→planula akan tumbuh menjadi polip (d)→terjadi kalsifikasi (e)→membentuk koloni karang (f) namun karang soliter tidak akan membentuk koloni

Baik reproduksi secara seksual maupun secara aseksual dijalankan oleh karang tentunya untuk tujuan mempertahankan keberadaan spesiesnya di alam. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga kedua metode tersebut saling melengkapi. Berikut adalah perbandingan reproduksi aseksual dan seksual dipandang dari sisi ketahanan dan adaptasi terhadap lingkungan.

Sumber : Silvianita Timotius, M.Si

Iklan