“Kamu tahu ‘kan dia sudah tidak ada lagi? Dia sudah pergi dari sini, dari dunia ini” teriaknya padaku Itulah yang dilakukan Shela, adik kandung Rangga, kepadaku karena ku histeris di tengah kerumunan ayat-ayat Al-Qur’an yang terlantun. Tangis itu menghantam hariku, tak kukira dihadapanku telah ada sesosok raga yang terbujur kaku berbalut kain kafan putih. Dia adalah calon suamiku, Rangga.

***

Sepertinya aku belum bisa menerima semua ini, aku tak percaya dengan yang terjadi. Semua terjadi di depan mataku. Meski sudah setahun berlalu dari masa itu. Bayangan itu tetap saja menempel dalam otakku, menjadi bagian dalam hidupku.

Aku masih sendiri, tak menjabat gelar Istri, semua menjadi batal, padahal hanya tiga hari lagi dari saat itu pernikahan dilaksanakan. Saat ini kegiatanku banyak untuk melupakan kenangan pahit itu, namun tetap saja belum bisa. Mungkin karena kumenutup diri untuk cinta.

Namun 21 juni tahun ini sungguh berbeda karena 21 juni tahun lalu aku ditinggalkan Rangga calon suamiku. Tapi 21 juni tahun ini aku bertemu dengan sosok lelaki yang begitu mirip dengan Rangga…

Seakan aku seperti menemukan Rangga kembali dalam hidupku. Tapi aku sadar,sosok lelaki itu bukanlah Ranggaku yang dulu walaupun mereka memiliki sifat dan karakter yg sama…

***

Disaat yang berbeda,aku kembali bertemu lelaki itu diacara 7 bulanan kakak ku, Ayu. Ternyata lelaki itu bernama Dimas, ia adalah teman kantor kakak iparku…

Tiba2 aku tersentak kaget ketika menjabat tangannya…

“Hai,aku Dimas. Nama kamu siapa?”. Ucap Dimas…

Aku pun diam terpaku,hanya bisa menatap dan melihat senyum di wajahnya…

“Kamu sering terlihat di sekitar Ayu…” lanjutnya

‎”Hei, kok kamu melihat aku seperti itu.Apa ada yang salah dengan pakaianku…??” Ujar Dimas kembali dan aku pun makin terhanyut dalam lamunan.

“Oh ga ada yang salah kok. Aku cuma hmmm….. aku cuma…” Balasku yang hanya bisa mengucapkan satu kalimat dengan terbata, bahkan kalimat yang aku ucapkan pun belum selesai. Aku pun langsung beranjak dari tempat itu karena tak mampu lagi menahan tetesan air mata. Sosok lelaki itu sungguh mampu membangkitkan memoriku tentang sosok Rangga yang selama ini ingin sekali aku lupakan, tapi aku tidak mampu. Dimas sudah cukup bingung dengan tatapanku kepadanya dan aku tak mau dia tambah bingung karena melihatku menangis dihadapannya…

Oh Tuhan…

Kakunya tangan ini dan kelunya bibir ini tak mampu kuredam, hanya kaki saja yang dapat kupercepat langkahnya. Dan kini aku berada di suatu ruangan seorang diri, dengan deraian air mata yang membanjiri sadarku.

Sepi dalam isak tangis, jerit yang kutahan sekuat hati melumurkan segala bentuk harap dalam asaku. Ku terduduk di lantai, terbawa suasana hati yang kian meraja. Ku hanya bisa mengumpat dalam hati, mengapa ini terjadi, apa yang salah, dan mengapa aku, bodohnya diriku !

***

Iklan