bergerak menjauh dari bayang itu
seharga kapur di dalam tanah
aku tak ingin tempatku menggenang air

berputar ke lubang waktu yg berlalu
setetes benih hasilkan nafsu
aku tak ingin menjadi derita kaum

biar mawar dan melati bersentuhan
yg terluka pastilah aku
minyak wangi yg kutanam di dadaku
membuat elok warna langkahmu

pecah bom waktu yg berdetak
derita tersebar bagai tren dunia
saat nafas tak lagi lewat paru
perut buncit di kancutmu

mengepak paha kulit putihmu
mengejang isi dalam kancutmu
mahkluk asing memajang nafsu
terpujilah wahai telembuk

ditulis pada 7 oktober 2010

by: nirman munir