berani jadi penulis!

berani jadi penulis!

“Mengarang itu gampang”, Begitu kata Arswendo Atmowiloto. Kamu, terutama yang selalu kesulitan mengeluarkan isi hati dan pikiran lewat tulisan, pasti komentar, “iya aja dia bilang gampang, wong emang dia pengarang.” Akur memang? Tapi mengarang atau menulis pada umumnya adalah keterampilan, artinya bisa dipelajari, ditekuni, jadi hobi, bahkan profesi. Jadi bukan ‘pekerjaan’ mustahil kan?

“Menulislah –pada saat awal- dengan hati. Setelah itu perbaiki dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan apa saja yang dirasakan.” William Forrester dalam film Finding Forrester arahan Gus Van Sant.

Menurut Ahmad Tohari, salah satu sastrawan Indonesia berkaliber Internasional, jangankan kita yang lagi belajar, penulis atau pengarang yang udah berpengalaman bisa saja kesandung masalah saat nuangin gagasan. Artinya, kalau kamu nulis dan macet, santai aja, apalagi persoalan utama menulis sama aja, nggak peduli penulis besar atau pemula yaitu memulai, mengembangkan, dan mengakhiri.

Bagi penulis pemula yang punya keinginan besar untuk bisa menulis, hanya perlu sedikit pedoman sebagai penuntun, yaitu kaidah dasar menulis yang baik. Kamu mungkin sudah berkali-kali coba menulis, tapi baru satu alinea sudah mentok, coba lagi, gagal lagi, hasilnya Cuma satu alinea itu. Ketika mau dilanjutkan, kamu seperti kehilangan bahan, atau kamu merasa kalimat berikutnya nggak nyambung lagi, lalu kamu putus asa. Padahal di otak kamu sudah menggumpal ide dan setumpuk bahan sudah di meja.

Jika kamu punya ide, dan bahan tulisan sudah lengkap, sebenarnya pekerjaan kamu sudah selesai 75%. Bagi seorang wartawan, dapat ide aja udah menganggap pekerjaan selesai 40%, bahan-bahan telah tersedia, pekerjaan sudah selesai 90%, sisanya 10% tinggal menulis, lalu tuntaslah. Artinya, menulis itu mudah.

“Imaji tanpa realita akan membusuk” Angela Carter

Tidak salah memang, para penulis dan wartawan sangat mudah membentuk opini masyarakat sehingga mereka disebut public opinion. Banyak tokoh-tokoh besar panutan masyarakat memulai popularitasnya dari menulis, dan kita pun harus jujur, banyak orang masuk penjara karena tulisannya. Ini membuktikan tulisan bisa membawa pengaruh besar dalam masyarakat, baik perilaku, cara berpikir, budaya, politik, maupun sosial ekonomi. lalu bagaimana dengan menulis fiksi? Membuat tulisan fiksi pun akan terasa mudah apabila kita punya niat, ya kan? Apalagi disaat kena panah asmara, mengungkapkan perasaan kita sampai lima halaman foliopun mungkin takkan jadi masalah buat kita, atau mungkin kamu lagi broken heart he…he…he………., pasti akan sangat menarik. Siapa tahu dari tulisan itu, kita kirimkan kemadia cetak dan akhirnya dimuat, bisa menambah uang jajan kita kan? Siapa tahu pula, kita bisa jadi novelis, kayak Agatha Cristie. So, berani jadi penulis?

(sumber: Nabil Maulana Ari)

Tips Ahmad Tohari

  1. Biasakan punya buku catatan, semacam diary, jadikan itu bank atau gudang ide. Sewaktu-waktu dapat ide, tulis aja. Kapan jadi tulisan, bukan persoalan besar.
  2. Rajin-rajin baca apa aja, termasuk tulisan orang lain. Dari sana kamu belajar “gaya” sekaligus memperkaya kosakata.
  3. Jangan lupa bergaul sama penulis, siapa tahu bisa tukar menukar ide.
  4. Kalo lagi bête, ya nggak usah nyutuk terus, enggan kemana-mana. Justru kamu mesti keluar dari perangkap kejenuhan.
  5. Nunggu ide? Wow, jangan ! cari dan ambil dimana aja. Banyak kok disekitar kita.

(sumber: Suara Merdeka)